pengerukan alam qt,,

Kampung Muara Tae kampung yang berlokasi di Kecamatan Jempang,  Kutai Barat, Kalimantan Timur. Warga Muara Tae sangat beragam, terdiri dari warga asli (Dayak Benuaq ada 30%) dan warga pendatang (Toraja, Batak dan Jawa 70%).
Kekayaan alam Kecamatan Jempang telah diambil sejak tahun 1971, dengan operasinya perusahaan HPH, PT Sumber Mas ( oleh seorang pengusaha, Josh Sutomo). PT Sumber Mas beroperasi di Kecamatan Jempang pada periode 1971-1975, 1983-1985, 1991-1992. Selain perusahan HPH, PT Sumber Mas juga membangun HTI di Kecamatan Jempang pada awal 1993, dengan PT Dirgarimba sebagai kontraktor pembibitannya. Pada 1995, perusahaan perkebunan kelapa sawit, PT London
Sumatra Group.
 tahun 2008, Salim Grup membeli London Sumatra Group dan PT Lonsum masih beroperasi hingga sekarang. Pada 1996/1997, masuk perusahaan tambang batubara, PT Gunung Bayan Pratama Coal (dimiliki oleh salah satu orang terkaya di Indonesia, Low Tuck Kwong) yang memulai eksplorasi dan eksploitasi hingga sekarang. 

Pada 2010, masuk perusahaan perkebunan kelapa sawit, PT Borneo Surya Mining Jaya (Surya Dumai Grup (Keluarga Fangiono)) dan beroperasi hingga sekarang. Pada Oktober 2011, masuk perusahaan perkebunan kelapa sawit lainnya, PT Munte Waniq Jaya Perkasa (TSH Resouces Bhd Grup) dan beroperasi hingga hari ini. Kehadiran perusahaan yang mengelilingi Kampung Muara Tae, tidak lebih baik daripada “perampok” yang hanya mengeruk sumberdaya alam tanpa mempertimbangkan kondisi nyata masyarakat di Muara Tae. 

Kondisi masyarakat dulu lebih baik dari kondisi saat ini karena kemudahan mencari sumber penghidupan. Rotan, kayu, babi hutn, ikan, madu tanyut, sungai dan lainya digunakan untuk pemenuhan kehidupan. Masyarakat juga melakukan pola bertani dan berkebun melalui proses penebanga, pembakaran, penanaman, dan pemanenan. Kehadiran perusahaan membawa berbagai masalah selain pengurangan sumber daya alam dan konflik sosial. 

Setelah bertahun-tahun beroperasi, perkebunan kelapa sawit dan perusahaan tambang tidak memberikan keuntungan seimbang bagi masyarakat setempat, kelestarian ekologis, dan keutuhan sosial-budaya setempat. 

Perkebunan kelapa sawit dan perusahaan tambang menjadi contoh yang paling nyata dari kegagalan
kebijakan pengelolaan hutan Indonesia pada umumnya dan pembangunan perkebunan skala besar pada
khususnya serta aktivitas pertambangan. 

Walau demikian pemerintah dan institusi penegak hukum jelas memberi legitimasi yang lebih kepada perusahaan, dengan menegasikan kepentingan masyarakat lokal. Ini menunjukkan betapa tidak setaranya posisi penduduk lokal jika dibandingkan dengan perusahaan transnasional di hadapan sistem hukum dan pemerintah Indonesia (telapak)

 

Sumber.

bunda

Garuda Bangun..

About falaq83jie

Suka yang Memacu adrenalin

Posted on September 11, 2013, in alam. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: